Bilamana Artikel Blog Obat Sakit ini Berguna, Siapapun Boleh Copy Paste sebagian atau Seluruh isi Blog.
Terserah mau cantumkan Sumbernya atau Tidak.
Selamat Ngeblog Indonesia
Tampilkan postingan dengan label buah manggis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buah manggis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Februari 2013

Kandungan Anti Oksidan Pada Daun Katuk

Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil menemukan senyawa antioksidan alami dalam sebelas macam sayuran. Kesebelas sayuran tersebut antara lain: kenikir (Cosmos caudatus), beluntas (Pluchea indica), mangkokan (Nothopanax scutellarium), kecombrang (Nicolaia speciosa Horan), kemangi (Ocimum sanctum), katuk (Sauropus androgynus), kedondong cina (Polyscias pinnata), antaman (Centella asiatica), poh-pohan (Pilea trinervia), daun gingseng (Talinum paniculatum), dan krokot (Portulaca oleracea). Senyawa antioksidan alami berupa senyawa fenolik (tokoferol, flavonoid, asam fenolat), senyawa nitrogen (alkaloid, turunan klorofil, asam amino, dan amina), atau karotenoid seperti asam askorbat.


Peneliti tersebut antara lain: Dr. Nuri Andarwulan, Ratna Batari, Diny Agustini Sandrasari dan Prof. Hanny Wijaya. Hasil penelitian menunjukkan nilai total flavonoid sayur-sayuran indigenous sangat bervariasi. “Seluruh sampel sayuran indegenous mengandung komponen quercetin,” kata Peneliti Sout East Asian Food and Agriculture Science Technology (SEAFAST) IPB, Dr. Nuri Andarwulan dalam acara Half Day Seminar on Natural Antioxidants: Chemistry, Biochemistry and Technology Selasa (16/9) di Ruang Mawar Kampus IPB Baranangsiang.

Sayuran indegenous yang mempunyai flavonoid tertinggi berturut-turut ialah katuk (831,70 miligram per 100 gram), kenikir (420,85 miligram per 100 gram) dan kedondong cina (358,17 miligram per 100 gram). Sedangkan krokot mempunyai total flavonoid terkecil yaitu 4,05 miligram per 100 gram. Komponen flavonoid pada daun katuk yang paling dominan adalah kaempferol sebesar 805,48 miligram per 100 gram. Meskipun daun katuk merupakan sayuran dengan nilai total flavonoid tertinggi dibandingkan sayuran indigenous lainnya, kandungan total fenol tertingi justru dimiliki kenikir (1225,88 miligram per 100 gram), diikuti beluntas 1030,03 miligram per 100 gram dan mangkokan 669,30 miligram per 100 gram. “Nilai total fenol sayur-sayuran indigenous rata-rata jauh lebih besar dibandingkan dengan nilai total flavonoid-nya. Hal ini menunjukkan di dalam sayur-sayuran tersebut terkandung senyawa fenol lain yang bukan berasal dari flavonol maupun flavone,” kata Dr. Nuri.

Peneliti Tufts University Boston Amerika Serikat, Bradley Bolling, PD mengatakan antoksidan mengurangi akumulasi produk radikal bebas, menetralisir racun, mencegah inflamasi dan melindungi penyakit genetik. “Masalah yang sering dijumpai dalam penelitian antioksidan yaitu referensi biasanya kapasitas oksidasi sebagai mekanisme aksi para botani, sangat banyak produk para botani, kekurangvalidan ukuran kapasitas antioksidan pada klinik, kelemahan standar penggunaan ukuran kapasitas antioksidan dan kelemahan data nilai antioksidan pada para botani.”

Strategi untuk memecahkan masalah ini antara lain: data aktivitas antioksidan dengan memperbandingkan produk para botani, mengikuti pemeringkatan pemasukan data dan membandingkan antara produk individu dan kelas sebagai pembanding dengan literatur yang ada, menyediakan ukuran langsung kapasitas antioksidan dan asses tidak langsung potensi bioaktivitas, dan mengindentifikasi bagaimana dampak metabolisne bioaksi antioksidan.

Seminar ini menghadirkan pembicara antara lain: Staf Pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian IPB Dr. Nurheni Sri Palupi, Pusat Studi Biofarmaka IPB M.Rafi, Ssi dan Susi Indariani, STP. Moderator dalam kesempatan tersebut Dr.drh.Sulistiyani, Dr.Yulin Lestari, Drs.Edy Djauhari Purwakusumah, M.Si. (Sumber:Institut Pertanian Bogor)


Sumber :
http://fema.ipb.ac.id/index.php/sebelas-sayuran-indigenous-jawa-barat-mengandung-antioksidan-alami/

Read More >>
allvoices

Minggu, 16 September 2012

GEMPUR PENYAKIT DENGAN BUAH MANGGIS


Kedengarannya aneh jika harus mengkonsumsi kulit buah manggis, pasti rasanya tidak enak. 

Bagaimana jika kulitnya juga mengandung banyak manfaat bagi kesehatan kita?

Seperti Garcinia mangostana L atau yang lebih terkenal dengan manggis. Buah tropis ini memiliki banyak manfaat dari isi, biji bahkan kulit juga. 
Kandungan manfaat yang terdapat dalam buah manggis.

Mengandung senyawa xanthone
Kulit buah manggis mengandung zat antioksidan yang dapat melawan radikal bebas, yakni xanthone. Beberapa penelitian menunjukkan, senyawa ini memiliki sifat sebagai antidiabetes, antikanker, anti peradangan, antibakteri, antifungi, antiplasmodial, dan meningkatkan kekebalan tubuh.

Menghambat penuaan
Menurut penelitian lain, zat antioksidan alami yang terkandung dalam buah manggis juga bisa menghambat proses penuaan / anti aging pada tubuh. Zat ini akan selalu memperbaiki jaringan sel tubuh, sehingga Anda awet muda.

Anti kanker
Selain sebagai anti oksidan, khasiat xanthone juga sebagai anti kanker. Ekstrak kulit manggis bersifat antiproliferasi untuk menghambat pertumbuhan sel kanker, selain itu ekstrak kulit manggis juga bersifat apoptosis penghancur sel kanker.

Menyehatkan mata, kulit dan rambut
Menurut hasil penelitian oleh pakar nutrisi dari Amerika, buah manggis dapat membantu mebuat kulit, mata, gigi, gusi dan rambut lebih sehat.

Meningkatkan stamina dan tenaga
Manggis juga memiliki peran penting dalam penyerapan dan metabolisme protein dan karbohidrat sehingga membantu dalam menjaga stamina tubuh.


Resep Olahan Kulit Manggis
Kita bisa membuat seduhan kulit manggis sendiri, meskipun rasanya agak pahit.
Caranya mudah, cuci bersih kulit buah, buang kulit luar yang bertekstur halus tapi keras ( banyak terdapat zat lilin atau resin ) , kemudian potong kulit 2 butir buah. Selanjutnya potongan tersebut direbus dalam 4 gelas air, sehingga tersisa 2 gelas. Air rebusan tersaring itulah yang diminum secara rutin 2 - 3 kali sehari. Mudah bukan?
Anda mungkin bisa menyajikan Kulit Manggis dengan Buah lain, siapa tahu ini akan menjadi peluang usaha ?









Satu hal yang perlu diperhatikan saat anda membuat jus kulit manggis, karena kulit manggis mengandung : Resin ( zat lilin ini ada pada kulit terluar buah manggis ) bagi tumbuhan manggis zat ini sangat dibutuhkan untuk melindungi daging buah dari serangan hama penyakit, tanin, serat kasar, dan komponen lainnya.

kesemuanya adalah komponen yang sulit / tdak dapat dicerna tubuh pada kadar tertentu..( beberapa hasil riset mengatakan " Melalui uji toksisitas subkronik, terbukti ekstrak kulit manggis tidak mempengaruhi profil kimia darah, ginjal, maupun hati. Hingga dosis 750 g masih aman konsumsi.)
Beberapa kasus dapat muncul akibat mengkonsumsi kulit buah manggis dalam bentuk tepung tanpa perlakuan yang baik, seperti gangguan pada ginjal, usus serta pada organ tubuh lainnya.
Jadi hati hati jangan sampai maunya mencari Obat tapi malah Berobat.

Semoga bermanfaat, salam sehat
# dikutip dari berbagai sumber
Read More >>
allvoices